Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
SEBELUM KITA MENGELUH...........
By: mr.president
1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup.
6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin
mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin
mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
Label: Kontemplasi, Refleksi, Renungan
Berapa Malaikat Yang Kau Jumpai Hari Ini ???
By: mr.president
Ya berapa malaikat yang sudah kau Jumpai hari ini? Atau hari kemarin? Di dalam perjalananmu menuju tempat kerja? Atau dalam perjalananmu menuju ke rumah kembali? Berapa? Bahkan itu di rumahmu sendiri. Berapa malaikat yang kau jumpai? Tidak ada? Tidak mungkin! Siapa bilang? Mari kita ingat-ingat lagi... Mungkin dia yang membuatmu marah-marah karena membuatmu terbangun di tengah malam buta. Membuatmu terjaga dengan tangisan. Dan kau hanya berkata dengan bersungut-sungut, "Anak siapa sih? Rese amat malem-malem nangis. Berisik!" Padahal mungkin ia membangunkanmu untuk sesuatu hal bermanfaat yang bisa kau lakukan di tengah malam itu.
By: mr.president
Ya berapa malaikat yang sudah kau Jumpai hari ini? Atau hari kemarin? Di dalam perjalananmu menuju tempat kerja? Atau dalam perjalananmu menuju ke rumah kembali? Berapa? Bahkan itu di rumahmu sendiri. Berapa malaikat yang kau jumpai? Tidak ada? Tidak mungkin! Siapa bilang? Mari kita ingat-ingat lagi... Mungkin dia yang membuatmu marah-marah karena membuatmu terbangun di tengah malam buta. Membuatmu terjaga dengan tangisan. Dan kau hanya berkata dengan bersungut-sungut, "Anak siapa sih? Rese amat malem-malem nangis. Berisik!" Padahal mungkin ia membangunkanmu untuk sesuatu hal bermanfaat yang bisa kau lakukan di tengah malam itu.Mungkin dia yang membuatmu sewot, ketika kau bertabrakan badan di jalan sehingga membuatmu terjatuh. Dan kau menjadi sedikit sakit dan malu. Dan kau membentaknya dengan ucapan, "Pake mata dong kalo jalan!" Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berlatih bersabar dan malahan justru jika ia tidak menabrakmu kau akan sedetik lebih cepat dan mungkin ceritanya akan berbeda. Tertabrak mobil barangkali. Mungkin dia yang membuatmu berpikir buruk, sebab setiap hari ia selalu menengadahkan tangan padamu dengan pakaian compang-camping dan baju dekilnya. Sehingga membuat ini terbersit di pikiranmu, "Males amat sih ini orang. Badan masih seger gitu loh?" Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berpikir positif dan lebih bermurah rejeki, setidaknya bermurah senyum. Ya. Cobalah ingat-ingat lagi. Berapa kali dalam sehari kau membentak, menghardik, membenci, berprasangka, mencibir, memaki orang lain? Berapa kali? Sebab mungkin sebanyak itu pulalah kau berlaku tidak sepantasnya pada malaikat. Senyumlah setiap hari pada siapapun yang kau jumpai. Berpikirlah positif pada setiap orang yang kau temui. Perlakukanlah orang lain dengan cara yang sama seperti kau mengharapkan orang lain memperlakukanmu. Tuhan selalu "bekerja" dengan cara yang misterius. Maka, selalu lah peka dalam menyikapi semua ini.
Tetap semangat menjalani hidup, karena kita tak kan pernah tahu, kejutan apa yang telah Allah persiapkan untuk kita esok.....
Tetap semangat menjalani hidup, karena kita tak kan pernah tahu, kejutan apa yang telah Allah persiapkan untuk kita esok.....
Label: Kontemplasi, Refleksi, Renungan
Taman Kedamaian;
Belajar dari Rumi
By: elza faiz
Belajar dari Rumi
By: elza faiz
Kehidupan seperti rumah penginapan, setiap hari ada saja tamu yang datang dan pergi silih berganti. Begitu juga dalam kehidupan, akan datang 'tamu' berupa kebahagiaan, kesedihan, kesuksesan, kegagalan,pujian, cemo'ohan. semuanya akan datang dan pergi. itulah hukum kehidupan. Bagaikan Tuhan menciptakan ada siang ada malam, ada hujan ada kemarau yang pasti akan terjadi pergiliran. Sekaya apapun kita, setinggi apapun pangkat dan jabatan kita tak akan mampu menghentikan pergiliran hukum kehidupan itu.Lalu dimana letak kedamaian?, kedamaian akan ada ketika kita mampu ikhlas, bahkan tersenyum ramah terhadap setiap 'tamu' yang datang, biarpun itu berupa bencana sekalipun. Menganggapnya sebagai hukum kehidupan yang biasa terjadi. disitulah engkau akan mendapati taman kedamaian nan indah menawan dan penuh makna.
Label: Kontemplasi, Refleksi, Renungan
Merdekakah Kita?
By: elza faiz
62 tahun sudah usia kemerdekaan kita. ironinya sampai hari ini masih banyak rakyat yang tetap tertindas dan terlunta-lunta ditanah tumpah darahnya sendiri. Kekayaan alam yang dimiliki sepertinya tak pernah berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyatnya. sementara perjuangan para founding father's mengusir penjajahpun justru di khianati para penerusnya dengan mengundang 'penjajah-penjajah' dalam wajah baru yang menguasai potensi alam indonesia. Kasus Freeport, blok cepu dll. adalah rujukan empirisnya. Yang terbaru adalah kebijakan pemerintah yang mengeluarkan PP No 2/2008, yang menyewakan hutan dengan bandrol hanya Rp.300 perak/ meter kubik.
By: elza faiz
62 tahun sudah usia kemerdekaan kita. ironinya sampai hari ini masih banyak rakyat yang tetap tertindas dan terlunta-lunta ditanah tumpah darahnya sendiri. Kekayaan alam yang dimiliki sepertinya tak pernah berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyatnya. sementara perjuangan para founding father's mengusir penjajahpun justru di khianati para penerusnya dengan mengundang 'penjajah-penjajah' dalam wajah baru yang menguasai potensi alam indonesia. Kasus Freeport, blok cepu dll. adalah rujukan empirisnya. Yang terbaru adalah kebijakan pemerintah yang mengeluarkan PP No 2/2008, yang menyewakan hutan dengan bandrol hanya Rp.300 perak/ meter kubik.Fenomena itu mentahbiskan satu realita mencengangkan, bahwa terhadap rakyatnya sendiri pemerintah bersikap arogan. Sementara buat kepentingan asing pemerintah justru tunduk dan jadi pelayan yang tingkat kepatuhannya nyaris 100 persen. Tidaklah mengherankan bila makna kemerdekaan itu ditanyakan pada pedagang kaki lima yang tempat dagangannya digusur paksa, warung yang dirobohkan, korban lumpur sidoarjo yang masih terkatung-katung, buruh yang di eksploitasi, maka makna kemerdekaan bagi mereka hanyalah omong kosong. bagi mereka kemerdekaan tidak lebih sebagai fakta sejarah belaka.
Potret ironi kemerdekaan itu semakin menemukan bentuknya ketika setiap hari rakyat miskin masih dan selalu menjadi obyek derita dari semua sandiwara elite kekuasaan. Kemiskinannya menjadi komoditas yang diperjual belikan untuk keuntungan tertentu. ini semua dilakukan dalam kondisi yang dinamakan merdeka.
Sungguh makna kemerdekaan akan terasa sempit bila hanya merdeka dari para penjajah pada 17 Agustus 1945. seolah setelah kemerdekaan kita tak lagi punya musuh bersama atau tak ada lagi yang bisa dijadikan musuh bersama.
Potret ironi kemerdekaan itu semakin menemukan bentuknya ketika setiap hari rakyat miskin masih dan selalu menjadi obyek derita dari semua sandiwara elite kekuasaan. Kemiskinannya menjadi komoditas yang diperjual belikan untuk keuntungan tertentu. ini semua dilakukan dalam kondisi yang dinamakan merdeka.
Sungguh makna kemerdekaan akan terasa sempit bila hanya merdeka dari para penjajah pada 17 Agustus 1945. seolah setelah kemerdekaan kita tak lagi punya musuh bersama atau tak ada lagi yang bisa dijadikan musuh bersama.
Label: Kontemplasi, Refleksi, Renungan
Menyalakan Spirit
By: elza faiz
By: elza faiz
Hindari pesimis, karena sikap pesimistis sesungguhnya adalah bentuk ketakaburan/kesombongan, orang yang pesimis seolah-olah tahu bahwa masa depannya akan gagal berantakan. padahal ia belum mencobanya. bukankah itu sikap takabbur yang dibenci Sang Khaliq?. Mari bangkit bersama, karena Tuhan akan selalu berpihak pada siapapun yang dipenuhi usaha. ingat semua peluang akan nampak secara pelan dan tersamar dibalik kerja keras.
Label: Kontemplasi, Renungan
Kekuatan Mimpi
By: elza faiz
Mimpi adalah visi, dan sebuah visi sejatinya merupakan deklarasi janji. sebagai janji maka tidak ada pilihan lain kecuali menepatinya.Dengan mimpi kita akan jelas DITEMUKAN DIMANA, tanpa mimpi kita akan DITEMUKAN DIMANA-MANA (baca:disorientasi, tidak jelas arah dan tujuannya)
Bahkan indonesia sendiri adalah produk sebuah mimpi. Mimpi para founding fathers. Saat itu, ide membentuk sebuah negara kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau, keragaman etnis, budaya, ras, agama dll adalah ide 'gila'. Sebuah utopia stadium tinggi. para pengamat asing pun mengamini kegilaan ide ini. Namun toh semua mewujud menjadi nyata. berkat mimpi.
Bagi yang dipenuhi keterbatasan, jagalah mimpi, karena ia akan mengobarkan api semangat. atau tinggalkan itu bila kita memilih untuk lenyap digilas sejarah.
Bagi yang dipenuhi keterbatasan, jagalah mimpi, karena ia akan mengobarkan api semangat. atau tinggalkan itu bila kita memilih untuk lenyap digilas sejarah.
Label: Kontemplasi, Refleksi, Renungan
Langganan:
Postingan (Atom)
